Gak kerasa
(atau kerasa banget?) ternayata pendidikian formal yang aku tempuh udah
bertahun-tahun dan masih akan berjalan terus karena mimpi yang masih buanyuak. Kalau
diitung dari TK 2 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun dan kuliah 5
tahun yang masih dilajani hampir 2 tahun. Rencana sekolah selanjutnya juga
masih ada, dari mulai mau ngelanjutin S2 sampai sekolah fashion impian yang
mahal-mahalnya minta ampun itu :’). Ternyata sekolah atau kuliah atau apapun itu lama banget, puluhan tahun ya. Meskipun esensinya
kita belajar memang bukan cuma saat bel bunyi di pagi hari dan bunyi lagi siang
hari. Perjalan ke kampus naik angkot pun aku sering dapet pelajaran banyak,
pelajaran hidup sih, bukan pelajaran tentang gimana nasi yang kita makan
melalui perjalan panjang dalam tubuh. Itu sebabnya kalau ada orang bilang
tentang buruknya naik angkot, aku bilang nggak. Seru koq :D
Naik angkotpun
juga bisa jadi guru luar biasa yang beri
banyak pelajaran. Guru bukan sekedar orang yang sekolah tinggi bergelar S.Pd
atau berlomba-lomba tes CPNS bahkan gak jarang butuh puluhan juta uang untuk
jadi PNS buat jaminan masa tua. Bukan, bukan Cuma itu. Ibu rumah tangga yang
entah apapun pendidikannya ngasih tau anaknya, atau jadi guru PAUD di
kampungnya juga guru bukan?. Kalau kamus bahasa indonesia bilang, guru adalah
orang yang pekerjaannya mengajar, menurutku bukan. Di bagian bawah buku tulis
juga ada kata-kata “experience is the best teacher”. Yes! Aku setuju yang itu,
yang itu tuh. Kalau kita bukan hanya belajar dari orang yang berdiri dikelas
memimpin kegiatan belajar. Jaman kuliah , orang yang mengajar didepan kelas
namanya juga bukan guru , namanya Dosen. Tapi aku jarang menyebut dosen dih,
aku lebih senang nyebut guru, entah kenapa.
Meskipun
rasanya kuliah beda sama sekolah meskipun esensinya sama, cari ilmu. Tapi entah
kenapa ini untung atau entah apa, aku selalu dapat sekolah atau kampus yang sistem maupun kurikulumnya
beda dengan kebanyakan sekolah. Bedanya ,
aku selalu belajar disekolah yang kalau materinya udah dipakai ujian sebelumnya
atau ya sebutlah uts, di ujian selanjutnya pasti materi itu gak ada. Harusnya seneng
kan ya? Iya sih aku seneng banget hahaha, Cuma agak heran karena pepi selalu
dapet sekolah yang materinya dipakai ujian beberapa kali. Heran aja aku jadi
belajarnya gak pernah ngulang yang dulu-dulu, gak pernah belajar tentang masa
lalu *halah*. Oiya Pepi itu saudaraku seumuran yang selalu beda sekolah tapi baju
sering samaan (pas kecil sih), Cuma jaman kuliah ini aja almamater kita sama. Maafkan
jadi curhat :p
Di kampusku
sekarang, fakultas keperawatan unair, kurikulumnya juga sempat berubah dari
jamannya senior dan jamanku sekarang. Kalau dengar cerita dari senior, mereka
tidak belajar dengan kurikulum per sistem macam jamanku , mereka belajar per
departemen dalam keperawatan. Jadi mereka belajar Keperawatan dasar,
keperawatan medikal bedah, jiwa dan komunitas dan lain-lainnya seperti itu. Lah
jamanku belajar per sistem dalam tubuh macem keperawatan kardiovaskuler, keperawtan
respirasi, keperawtan neuro dan lainnya. Setauku kurikulum itu berubah sejak fakultas
kita pindah dari kampus A ke kampus C. Dan menurut cerita temanku, ternyata
malah sekarang ini, hampir semua fakultas keperawatan yang ada di indonesia menggunakan kurikulum per departemen. Nah loh
, halooo, macem mana. Sejauh ini aku belum ngerti banget tentang perbedaan itu dan
yang mana yang sebaiknya digunkan. Tapi secara general, sekolah keperawatan
sekarang sudah menerapkan kurikulum
Ners. Kurikulum Ners ini terdapat 2 (dua) tahap program pendidikan yaitu tahap
program akademik dan tahap program profesi. Lulusan tahap akademik adalah
Sarjana Keperawatan yang disingkat S.Kep. dan lulusan tahap profesi adalah Ners
(sebagai perawat professional). Jadi kalu lulus nanti namaku jadi Dina
Rosita S.kep.,Ners begitu hihi amin. Jangan sedih, kalau mau ngelanjutin S2, S3
bahkan spesialis juga bisa. Tapi untuk sekolah spesialis masih jarang kampus
yang dituju, setauku baru Universitas Indonesia. Jadi jangan anggap perawat itu
pesuruh ya, kita sekolahnya susah :’).
Temenku pernah ngasih
lihat tentang seorang anggota DPR yang Terhormat, beliau wanita dan bilang , kalau
mau di sejajarkan dengan dokter ya ngapain
kuliah perawat. Begitu kata beliau ketika ada sidang tentang RUU
keperawatan. Nope ibu DPR yang terhormat, kita bukan mau jadi dokter atau
sejajar, hanya saja dokter tidak bisa kerja tanpa kita begitu juga sebaliknya. Masa
di indonesia,kasarnya perawat masih seperti setara pembantu sementara diluar
negeri perawat dihargai mahal. RUU keperawatan yang bisa “naikin” kita juga
belum di sah kan. Beberapa kali ada demo, di daerah maupun di senayan juga udah
pernah. Tapi aku sih gapernah ikut, entah aku belum tau esensinya demo haha . Ternyata
ada loh hadist tentang demo , subhanalla. Bunyinya “janganlah semua ikut berjihad, kenapa tidak
tinggal sebagian dari kamu utk tetap menuntut ilmu, agar saat yg berjihad tadi
kembali masih ada yg bisa mengajarkan ilmunya”. .
Karena sudah ada teman-teman yang berjuang, jadi tugas kita yang tidak ikut demo
ya belajar sambil berdoa , semoga sidangnya segera selesai dan berjalan lancar dengan
terwujudnya cita-cita perawat se-indonesia. Supaya kita nggak dipandang sebelah
mata :))))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar